karenakita adalah umat pilihan maka ada misi yang harus kita tunaikan, seperti yang dikatakan 1ptr. 2:9 "tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-nya yang
Bacaan Firman Tuhan Kisah Para Rasul 20 21-31 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. Pesan perpisahan yang disampaikan oleh Rasul Paulus yang akan melanjutkan perjalanan misi penginjilan ke Yerusalem memberikan kita pedoman dan panutan hidup yang layak dan patut kita tiru. Paulus mengungkapkan bagaimana dia sebagai “tawanan Roh” yang menyerahkan segala kehidupannya hanya untuk melayani Tuhan. Paulus bersaksi tentang hidupnya, bagaiamana ketulusan dan kesungguhan hidupnya yang dipanggil sebagai rasul ayat 26-27. Dari sini kita belajar dari rasul Paulus tentang kesungguhannya untuk taat dan melayani Tuhan dalam hidupnya, bahwa dia dapat lepas dari segala beban dan tekanan dalam menjalani kehidupannya karena dia memiliki kesungguhan untuk hidup dalam panggilannya sebagai rasul. Walaupun ada banyak hambatan dan tantangan, namun tidak pernah itu semua menghambat dan menyulitkannya, sebab niat dan pelayanannya dilakukan dengan ketulusan. Paulus dengan pasti dan penuh keyakinan tanpa beban dapat maju melangkah ke depan menjalani hidup. Paulus melihat kebelakang tanpa penyesalan dan juga memandang ke depan tanpa ketakutan. Walaupun Paulus tidak tahu apa yang akan terjadi dalam dirinya di depan, namun dia tidak pernah menghiraukannya, sebab dia tetap pada fokus hidupnya yaitu menyelesaikan tugas yang telah Tuhan Yesus berikan kepadanya. Melalui pengalaman hidup Paulus kita mendapatkan hikmat yang berharga sebagai orang-orang yang terpanggil dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus dalam menjalani kehidupan ini. Bisa banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, yang membebani dan menyusahkan kita, namun bagaimana kita mampu untuk mengendalikan hidup dalam setiap situasi. Kita tidak bisa memaksakan kehendak supaya hanya hal-hal baik yang kita terima, namun kita harus belajar untuk menerima setiap kenyataan yang terjadi dan mampu mengendalikan diri dalam situasi apapun. Di saat senang, maka bersenanglah sewajarnya tanpa berlebihan, jangan sampai kesenangan itu menjatuhkan kita pada sikap tinggi hati dan sombong, tetapi takutlah akan Tuhan dengan tahu mengucap syukur bahwa itu adalah pemberian Tuhan. Di saat susah, hadapilah kesusahan dengan sewajarnya, tanpa berlebihan menyikapinya. Jangan sampai kesusahan itu membuat kita jauh dari Tuhan, namun berpenganglah pada pengharapan kepada Tuhan sebagaimana prinsip hidup Paulus “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku” Baik suka maupun duka dapat terjadi dan silih berganti dalam hidup kita, yang terkadang tidak dapat prediksi apa yang akan terjadi ke depan, sebagaiaman tertulis di Pengkhotbah 3 1, 11 “untuk segala sesuatu ada masanya.... tetapi Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya”. Sekalipun itu kesusahan dapat menjadi kebaikan bagi kita ketika kita dapat menempatkan diri dengan baik bahwa kita hidup bukan bergantung pada dunia ini tetapi bergantung pada Tuhan yang telah memanggil dan menjadikan kita anak-anakNya. Segala sesuatu bisa terjadi dalam hidup kita, namun itu semua tidak pernah menjadi beban yang memberatkan kita menjalani hidup, sebab kita memiliki prinsip hidup yaitu hidup untuk melayani Tuhan. Kita dapat menjalani semua yang terjadi dalam hidup tanpa beban sebab yang kita perbuat semata-mata hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita tahu dan yakin bahwa Tuhanlah yang akan meluruskan jalan bagi kita asal kita memegang prinsip iman sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus “Marilah kepadaKu semua yang letih dan lesu dan berbeban berat.....pikullah kuk yang kupasang....dan jiwamu akan mendapat ketenangan” Matius 1128-30Kitasemua ditentukan, dipanggil dan dibenarkan. Yesaya 55 : 8 - 9. Jalan-jalan Tuhan melampaui semua jalan dan rancangan kita. Tuhan tidak pernah keliru. Dia memanggil dan mempersiapkan pekerjaan bagi kita, yaitu Amanat Agung, karena itulah tugas pangilan kita selama masih bernafas di bumi ini.
Dipanggil untuk melayani Tuhan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari Injil Lukas 101-12. Secara lengkap kebenaran firman Tuhan tersebut saya kutip dan dilampirkan di bawah ini. 1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 2 Kata-Nya kepada mereka “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. 5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu Damai sejahtera bagi rumah ini. 6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah 11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini Kerajaan Allah sudah dekat. 12 Aku berkata kepadamu pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu”. Secara teologis panggilan melayani Tuhan tidak terjadi dengan sendirinya. Itu bukan kehendak manusia. Panggilan terjadi karena Tuhan menghendakinya. Tuhan yang memilih dan mengutus tiap orang untuk terlibat dalam karya-Nya. Pemilihan dan pengutusan itu bukan didasarkan kepada kehebatan dan kelayakan kita. Tetapi semua itu didasarkan pada kehendak, kedaulatan dan otoritas serta kuasa Tuhan. Melalui nas ini, kita melihat bahwa ketika Tuhan memilih dan mengutus, kita tidak boleh bertanya pergi ke mana, dengan siapa, dan apa yang perlu dibawa. Sebaliknya, responslah panggilan itu dan jalanilah dengan sukacita. Ketika Tuhan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka pergi ke setiap kota dan tempat, Dialah yang memberitahukan dengan siapa mereka bekerja, bagaimana menghadapi situasi pelayanan dan karakter manusia yang beragam, serta bagaimana seharusnya bersikap ketika mengalami penerimaan atau penolakan Lukas 104-11. Tuhan tidak pernah salah memilih dan mengutus orang bekerja dalam kebun anggur-Nya. Untuk memenuhi panggilan pelayanan, sudah seharusnya seseorang tidak dibebani dengan hal-hal materi 4, tidak memaksakan keinginan, melainkan hanya fokus pada tugas panggilannya. Seorang pelayan harus melayani sesuai kehendak Tuhan dan bertanggung jawab merespons panggilan karena panggilan itu menyatakan kuasa Allah melalui pertobatan dan pewartaan Kerajaan Allah. Panggilan melayani Tuhan merupakan anugerah yang diberikan seturut kehendak-Nya. Karena itu, setiap orang yang dipanggil dalam pelayanan harus menyatakan kerelaan tanpa paksaan karena panggilan pelayanan tersebut adalah kesempatan yang dianugerahkan Tuhan. Jika melayani hanya menginginkan tempat yang aman dan nyaman, kehidupan yang terjamin, mendapat penghormatan dan penghargaan, maka janganlah memberi diri menjadi pelayan. Semua itu bukanlah dasar pelayanan yang diajarkan Alkitab. Ingatlah panggilan melayani Tuhan menuntut kesediaan diri melayani seturut kehendak Tuhan.